| PEMIMPIN dan PANCASILA ARMANI |
|
|
|
| Ditulis oleh Hans | |
| Sunday, 28 February 2010 22:06 | |
|
R. Dendi D
Kerena ini menyangkut pesan moral bagi pemimpin yang masih merasa beriman untuk memperhatikan rakyat, terlepas dari rakyat pemilihnya yang memang juga tidak bermoral, tapi ini tentunya menjadi tanggung jawab pemimpin yang masih saja mengklaim ia di pilih rakyat, ia mewakili suara rakyat, suara Tuhan yang tentunya tidak diskriminasi. Namun yang menjadi tontonan kita sekarang, pemimpin menunjukan diri yang lepas dari kuasa iman yang membebaskan. Pemimpin menunjukan kepandaian-kepandaian yang tersembunyi di bawah ketiak yang bau dari hatinya, dan yang bau dari parfum kapitalis pemilik kuasa penindas. Seperti apakah pemimpin kita, dan bagaimanakah definisi yang tepat buat mereka? Menjadi pemimpin sekarang adalah persoalan kepandaian bagaimana bermonolog yang baik dan benar. Ia harus mampu membuat orang tertawa, tersenyum gembira, tapi juga harus mampu mempunyai ekspresi yang lebih tentang kesedihan, duka dan tentunya rasa ibah yang memungkinkan apresiasi yang berlebih dari penonton pemilihnya. Ia harus pandai, dan tahu tata krama ketimuran sehingga tidak boleh bermonolog sebagai Kerbau, sebab bisa jadi Kerbau yang ia pertontonkan menunjukan tanda realitas dirinya yang sebenarnya, diri sebagai Kerbau. Apakah pemimpin kita mempunyai jati diri Kerbau dan bersedia menjadi manusia Kerbau? Sampai sekarang, tidak ada pemimpin yang mau menjadi Kerbau, atau diidentikan dengan Kerbau, sebab dia mempertontonkan dirinya benar-benar gemuk, lamban, malas dan katanya, bodoh. Tidak ada yang mau diidentikan dengan Kerbau yang menunjukan kesejahteraan dan kemandirian, yang mau melayani petani tua penggarap sawah dan bersedia di cambuk. Tidak ada yang mau menjadi Kerbau yang harganya mahal (Tedong Bonga) yang siap dibunuh untuk memuluskan tuannya menuju surga seperti keyakinan orang Toraja. Tidak ada yang mau seperti Kerbau yang siap dialihtangankan atas nama cinta untuk melamar seorang gadis seperti adat orang Bejawa-Flores melamar gadis. Lalu sebenarnya pemimpin kita ini seperti apa? Maunya dia sebenarnya seperti apa? Apakah dia tidak mau mengidentikan dirinya dengan sesuatu yang lain?. Ataukah dia takut pengidentikan dirinya dengan sesuatu yang lain memungkinkan dia ditotemkan. Apakah pemimpin kita takut ditotemkan dengan Kerbau yang membuat Kerbau tak boleh di makan kerena haram sehingga memungkinkan dia mengotori jalanan, membuat macet jalanan tanpa ada kuasa untuk diusir mengingat dia adalah totem seorang pemimpin. Lalu seperti apakah pemimpin kita? Pemimpin kita selalu mengklaim diri seorang Pancasilais sejati, namun selalu menunjukan ironi, ketika dipertanyakan nilai-nilai Pancasila yang dianutnya, ia lebih menunjukan diri sebagai perwujudan paham nasionalisme sempit, atau suatu ketidakperdulian dengan pembenaran di sisi lain, lantaran thing tang Pancasila di Pusat Studi Pancasila UGM Yogyakarta, pemulung di larang masuk. Jadi, seperti apa pemimpin kita? Pemimpin kita adalah pemimpin Pancasila, pemimpin manuk`e, namun dia tidak menjadikan diri sebagai manusia Pancasila sungguhan yang kita anuti sebagai ideologi kita, mungkin tumpah darah kita. Dia hanya menunjuk diri sebagai Pancasila sebagai ideologi kelas, Pancasila Armani yang mengaburkan atau menyuramkan jati diri bangsa dengan pembelaannya yang kabur. Dia meniadakan sila-sila Pancasila, apa lagi Bhineka Tunggal Ika yang kita anut. Dia hanya menunjuk diri, kuasa egonya dengan A|X agar diketahui dirinya orang besar yang mempunyai modal untuk menguasai dunia, dimana Pancasila yang sesungguhnya hanya sebuah inspirasi untuk dijadikan alatnya agar dapat di pakai dalam masa kepemimpinannya yang sifatnya sementara ini untuk menindas. Ia hanya menjadikan Pancasila untuk meningkatkan kapitalnya tanpa perduli terhadap yang lain, rakyat pemilihnya. Sesungguhnya pemimpin kita hanya menunggangi rakyat, dan berharap rakyat menganggapnya ringan dan selalu bersifat nerimo. Rakyat tidak perlu membawa-bawa Kerbau, kerena ia bisa saja membawa Gajah untuk menginjak-injak rakyat yang memprotes, Ancaman akan Gajah untuk rakyat pemrotes ini ditunjukan presiden dengan mempersoalkan etika Kerbau, mendatangi markas TNI, Polisi, menangkap penunggak pajak, dan tidak memberikan tempat dalam kualisi dengan turun langsung untuk melobi pimpinan partai dalam kasus Century. Melihat hal ini, rakyat tentunya tahu bahwa pemimpinnya bukan pemimpin Pancasila, dan senjata untuk melawannya tidaklah kuat jika hanya dengan seeokor Kerbau. Rakyat tentunya masih berpikir untuk melawan pemimpin yang memperalat mereka, dan masih terus berharap mempunyai pemimpin yang berpihak pada mereka. Rakyat sekarang mungkin hanya bisa bernyanyi seperti rakyat Sikka yang tidak percaya pada pemimpinnya yang suka menipu, dengan bernyanyi berulang-ulang sambil menari: Rakyat mungkin terus bernyanyi lagu di atas sambil mengeluh, ah..dia cuman pemimpin Pancasila Armani yang cuman menunggangi, mengaburkan dan meniadakan kita. Melihat perilaku pemimpin bangsa ini yang ada di Jakarta yang menunjukan ideologi Pancasila Armani yang mempunyai kecenderungan eksploitasi terhadap rakyat, pemimpin kita tentunya juga tidak terlepas dari ideologi tersebut. Hal ini terjadi kerena banyak pemimpin yang terhegemoni oleh orang Jawa, terhegemoni oleh Pancasila yang kelasnya cuman setingkat Armani. Kenyataan ini menjadi perangkap buat seorang pemimpin NTT sehingga membuat visi kerakyatannya tidak jelas. Cinta sejati yang ditunjukannya tidak menunjukan cinta sosial, ia hanya menunjukan cinta kelas, kelas priayi yang sudah biasa meniadakan kelas nonpriayi yang bisa saja dilakukan dengan bunga. (di Yogya, ada priayi yang mengusir rakyat yang berjualan dengan menanam bunga). Kebuntuan idelogi ini membuat sesat pikir para pemimpin NTT, dan membuat langkah-langkah praksis menjadi ambigu. Seorang pemimpin seolah-olah bertindak dengan menunggu waktu masa kepemimpinannya berakhir dan jabatannya terisi di curriculum vitaenya, tanpa rasa malu dan di tahu keberhasilannya apa?. Ia bisa saja menyalahkan alam atas kebijakan yang gagal seperti petani tua yang tanpa pendidikan. Permasalahan ideology ini jika terus didiamkan, maka yang akan terjadi pemimpin akan menjadi anjing Armani, yang datang kepada tuannya dengan ekor terus digoyangkan dan berteriak akan ketidakdialan terhadap rakyatnya, paling banter hanya sekali seperti anjing yang lapar. setelah itu ia akan tetap menjadi anjing Armani, ya..anjing Pancasila Armani. Untuk pemimpin kita seperti ini tentunya lagu dan tarian Sikka yang diulang-ulang di atas sangat cocok buatnya. Apakah anda mau menyanyikan dengan tarian? Terserah anda! Penulis adalah Mahasiswa Antropologi UGM Yogyakarta |





Melihat perilaku pemimpin bangsa kita sekarang yang bercokol di Jakarta, tentunya kita masih bersikap bijak dengan tidak menyalahkan rakyat pemilihnya, dan tentunya kita juga tidak layak mempermasalahkan ungkapan vox populi, vox dei, suara rakyat, suara Tuhan.