| NTT Pernah Menjadi Penghasil Daging Kaleng |
|
|
|
| Ditulis oleh Hans | |
| Sunday, 07 February 2010 12:35 | |
|
Kupang, NTT Online - Nusa Tenggara Timur (NTT) pernah menjadi penghasil daging kemasan dalam kaleng untuk memenuhi kebutuhan daging nasional pada era 1952 sampai 1965. Namun kemudian bangkrut karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat itu memaksa pemerintah memotong nilai yang rupiah dan semua usaha di Indonesia mengalami kesulitan modal. Leo Nisnoni, salah seorang tokoh masyarakat Kupang yang juga pewaris tahta Kerajaan Kupang, ketika dimintai keterangan saat mengikuti ulang tahun DPD Partai Gerindra NTT di Kupang, Sabtu malam mengatakan, seandainya bukan karena krisis ekonomi dan kesalahan manajemen, pabrik pengalengan daging sapi di Kupang bisa menembus pasar ekspor. "Karena pada periode antara 1952 sampai 1965 itu, di mana almarhum ayah saya (Raja Alfons Nisnoni) bisa mengelola pabrik pengalengan daging sapi tersebut dengan baik dan pasar tidak hanya untuk NTT, tetapi malah untuk kebutuhan seluruh Indonesia, namun karena terpaan krisis ekonomi hebat dan ada kesalahan manajemen keuangan sehingga mengalami kesulitan modal," katanya. Dia mengatakan, pabrik pengalengan daging sapi di Kupang itu, dikenal dengan nama ICAFF (Indonesian Canning and Freezing Factory) Kupang. Pabrik ini bergabung dalam sebuah kelompok usaha dengan dua pabrik lain yakni CIP (Canning Indonesian Products) di Denpasar Bali dan NAFO (National Food) di Banyuwangi, Jawa Timur. Hanya, ICAFF Kupang dan CIP khusus memusatkan perhatian pada pangalengan daging sapi, sedangkan NAFO di Banyuwangi pada ikan. Leo Nisnoni dimintai tanggapan berkaitan dengan tekad pemerintahan Gubernur Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Esthon Foenay untuk menjadikan NTT sebagai provinsi ternak, selain jagung, cendana dan koperasi. Dia mengatakan, pada masa sebelum 1970, NTT memang dikenal sebagai gudang ternak, bahkan banyak orang Kupang bolak-balik ke Singapura dan Thailand yang menjadi dua negara pengimpor sapi dari Indonesia, terutama dari Timor dan Sumba, NTT. Ketika itu, katanya, dokter hewan sangat jarang, namun penyakit hewan pun jarang terjadi, seperti penyakit mulut dan gugur kandungan yang banyak menyerang sapi Timor belakangan ini. Pada masa itu, katanya, masyarakat dan pemerintah pun sangat patuh pada larangan misalnya, tidak boleh memperjualbelikan sapi betina, apalagi dalam keadaan bunting. Lagipula, jarang sapi dari luar daerah masuk ke Timor sehingga tidak menularkan penyakit bawaan dari daerah lain. Dia berpendapat, niat Provinsi NTT untuk menjadikan daerah itu gudang ternak terancam oleh begitu banyak penyakit yang muncul, terjadi jual beli sapi betina bahkan dalam keadaan bunting dan sejumlah persoalan lain seperti kemerosotan lingkungan alam mengakibatkan ketersediaan pakan berkurang, kesulitan air dan sebagainya. Leo Nisnoni juga mempertanyakan proyek pengembangan sapi secara besar-besaran dalam kerja sama dengan Autralia di Besipae, Timor Tengah Selatan (TTS) pada dekade 1980 sampai 1990-an, yang tidak memberikan sumbangan besar pada upaya menjadikan NTT sebagai gudang ternak. beritadaerah.com |




